WAHANANEWS.CO, Jakarta - Ketua Umum PLN Watch, KRT Tohom Purba, mengajak pemerintah, seluruh pemangku kepentingan, dunia usaha, dan masyarakat memberikan dukungan penuh kepada Direktur Utama PT PLN (Persero) yang baru, Suroso Isnandar, untuk memperkuat transformasi perusahaan sekaligus menjadikan PLN sebagai motor penggerak kemandirian energi dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Menurut Tohom, pergantian kepemimpinan di tubuh perusahaan listrik negara tersebut harus menjadi momentum konsolidasi nasional dalam membangun sistem ketenagalistrikan yang semakin tangguh, modern, efisien, dan mampu menjawab tantangan pembangunan Indonesia dalam jangka panjang.
Baca Juga:
PLN Watch Minta Pemerintah dan Seluruh Stakeholder Beri Dukungan Penuh pada Dirut PLN Baru
Ia berpandangan bahwa PLN memiliki kedudukan sangat strategis karena keberhasilan industrialisasi, hilirisasi sumber daya alam, investasi, pembangunan infrastruktur, hingga peningkatan kesejahteraan masyarakat sangat bergantung pada ketersediaan energi listrik yang andal dan terjangkau.
"PLN merupakan salah satu fondasi utama kekuatan ekonomi bangsa, sehingga kepemimpinan baru harus memperoleh dukungan nyata dari pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan agar mampu menjalankan agenda besar ketenagalistrikan nasional secara optimal," ujar Tohom, Selasa (20/10/2026).
Tohom yang juga merupakan Ketua Umum Aliansi Lembaga Perlindungan Konsumen Listrik Nasional (ALPERKLINAS) itu menilai keberhasilan kepemimpinan Suroso akan berpengaruh besar terhadap pencapaian agenda pembangunan nasional di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Baca Juga:
PLN Watch Minta Pemerintah dan Semua Stakeholder Dukung Penuh Dirut PLN yang Baru
Menurutnya, kebutuhan listrik Indonesia akan terus meningkat seiring percepatan industrialisasi, pengembangan kawasan ekonomi, pertumbuhan pusat data, penggunaan kendaraan listrik, serta perluasan aktivitas ekonomi masyarakat di berbagai wilayah.
Karena itu, PLN membutuhkan kepemimpinan yang mampu mengintegrasikan pembangunan pembangkit, penguatan jaringan transmisi dan distribusi, pengendalian biaya, serta modernisasi teknologi dalam satu strategi besar ketenagalistrikan nasional.
"Kalau Indonesia ingin menjadi kekuatan industri yang diperhitungkan dunia, PLN harus diposisikan sebagai penggerak utama pembangunan, bukan hanya sebagai penyedia listrik yang mengikuti pertumbuhan ekonomi, melainkan sebagai institusi strategis yang ikut menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru," katanya.
Dukungan Pemerintah Harus Berwujud Kebijakan Nyata
Tohom menilai dukungan terhadap Suroso tidak boleh berhenti pada pemberian kepercayaan atau dukungan moral, tetapi harus diwujudkan melalui sinkronisasi kebijakan, kepastian regulasi, penguatan pendanaan, dan koordinasi lintas lembaga.
Ia memandang pemerintah pusat, kementerian teknis, pemerintah daerah, lembaga pembiayaan, dunia usaha, serta seluruh mitra strategis PLN memiliki tanggung jawab bersama untuk memastikan pembangunan infrastruktur kelistrikan nasional berjalan konsisten.
Menurutnya, keterlibatan Danantara Indonesia dalam ekosistem pengelolaan BUMN juga dapat menjadi kekuatan strategis untuk memperkuat tata kelola investasi, efektivitas pembiayaan, dan keberlanjutan proyek ketenagalistrikan.
Tohom mengingatkan bahwa pembangunan infrastruktur listrik membutuhkan investasi jangka panjang, sehingga PLN memerlukan kepastian kebijakan dan keberanian mengambil keputusan profesional berdasarkan kepentingan nasional.
"Jangan sampai direktur utama yang baru dibebani target besar, tetapi ruang geraknya terhambat oleh regulasi yang tidak sinkron, birokrasi berbelit, atau kepentingan sektoral yang memperlambat pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan," ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa kebijakan tarif, subsidi, kompensasi, investasi jaringan, dan pengembangan pembangkit perlu dikelola secara terintegrasi agar PLN mampu menjaga keseimbangan antara tanggung jawab pelayanan publik dan kesehatan keuangan perusahaan.
Bagi Tohom, keberlanjutan finansial PLN merupakan prasyarat penting untuk meningkatkan keandalan pasokan, memperluas elektrifikasi, memperkuat kemampuan investasi, serta menjaga kualitas pelayanan kepada pelanggan.
"PLN harus sehat secara finansial tanpa kehilangan orientasi pelayanan publik, karena perusahaan yang kuat akan memiliki kemampuan lebih besar untuk menghadirkan listrik berkualitas sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan rakyat," tegasnya.
PLN Harus Menjadi Penggerak Kemandirian Energi Nasional
Tohom yang juga Ketua Umum DPP Relawan Nasional MARTABAT Prabowo-Gibran dan Sekretaris LBH Advokasi Peduli Bangsa ini berpandangan bahwa kepemimpinan Suroso idealnya bisa menjadikan PLN sebagai perusahaan energi modern yang mampu mengantisipasi perubahan kebutuhan listrik nasional.
Menurutnya, pengembangan energi baru terbarukan, pemanfaatan sumber energi domestik, penguatan jaringan antardaerah, dan peningkatan efisiensi pembangkitan perlu dilaksanakan melalui perencanaan yang matang.
Ia menilai agenda transisi energi harus dijalankan secara realistis dengan mempertimbangkan keandalan sistem, kesiapan teknologi, kemampuan investasi, dan keterjangkauan tarif bagi masyarakat.
Dalam pandangannya, Indonesia membutuhkan strategi ketenagalistrikan yang tidak hanya mengejar peningkatan kapasitas terpasang, tetapi juga memastikan listrik mampu memberikan nilai tambah bagi pembangunan industri dan ekonomi daerah.
"Ukuran keberhasilan PLN pada masa depan bukan hanya berapa besar listrik yang mampu diproduksi, tetapi seberapa jauh energi tersebut dapat menciptakan industri baru, membuka lapangan kerja, mengurangi ketimpangan pembangunan, dan memperkuat kedaulatan ekonomi Indonesia," ujarnya.
Tohom juga mendorong pengembangan jaringan transmisi yang mampu menghubungkan wilayah penghasil energi dengan kawasan industri dan pusat pertumbuhan ekonomi agar potensi energi nasional dapat dimanfaatkan secara lebih optimal.
Ia melihat penguatan infrastruktur ketenagalistrikan sebagai kebutuhan mendesak untuk mendukung hilirisasi mineral, pengembangan industri manufaktur, pembangunan pusat data, dan pertumbuhan ekosistem kendaraan listrik.
Menurutnya, keberhasilan PLN mengantisipasi permintaan listrik akan turut menentukan kemampuan Indonesia menarik investasi industri berteknologi tinggi yang membutuhkan pasokan energi stabil dan berkesinambungan.
"Indonesia tidak boleh kehilangan peluang investasi hanya karena infrastruktur kelistrikannya tertinggal, sehingga PLN harus mampu bergerak lebih cepat dalam menyiapkan kapasitas dan jaringan yang dibutuhkan industri masa depan," kata Tohom.
Pengalaman Suroso Dinilai Menjadi Modal Strategis
Tohom memandang penunjukan Suroso Isnandar sebagai Direktur Utama PLN membawa harapan positif karena sosok tersebut memiliki latar belakang teknis dan pengalaman panjang dalam berbagai bidang penting ketenagalistrikan.
Menurutnya, pengalaman Suroso dalam pengelolaan pembangkitan, pengaturan sistem tenaga listrik, teknologi informasi, manajemen proyek, dan energi baru terbarukan merupakan modal penting untuk memahami kompleksitas perusahaan secara menyeluruh.
Ia menilai kepemimpinan PLN membutuhkan kemampuan menghubungkan persoalan teknis dengan keputusan bisnis dan kebijakan strategis, mengingat operasional perusahaan memiliki dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat dan stabilitas ekonomi nasional.
"Pak Suroso memiliki pengalaman di berbagai bidang penting PLN, mulai dari sistem tenaga listrik hingga pengembangan energi baru terbarukan, sehingga rekam jejak tersebut menjadi modal berharga untuk membangun kepemimpinan yang memahami persoalan perusahaan dari sisi teknis maupun strategis," ujarnya.
Meski demikian, Tohom berpandangan bahwa pengalaman profesional harus diterjemahkan menjadi hasil kerja yang nyata melalui peningkatan keandalan pasokan, percepatan proyek, efisiensi operasional, dan pelayanan pelanggan.
Ia berharap Suroso mampu membangun budaya kerja yang menghargai kompetensi, mendorong inovasi, serta memperkuat kolaborasi antara direksi, manajemen, dan seluruh pegawai PLN.
Menurutnya, transformasi perusahaan akan berjalan lebih efektif apabila setiap unit organisasi memiliki kesamaan visi, indikator kinerja yang jelas, dan keberanian melakukan perbaikan berkelanjutan.
"Pemimpin yang hebat bukan hanya mampu mengambil keputusan besar, tetapi juga mampu membangun organisasi yang solid, profesional, dan memiliki semangat bersama untuk menghasilkan kinerja terbaik bagi masyarakat," katanya.
Perlindungan Konsumen dan Keselamatan Listrik Harus Jadi Prioritas
Dalam kapasitasnya sebagai Ketua Umum ALPERKLINAS, Tohom juga mengingatkan pentingnya menjadikan perlindungan konsumen dan keselamatan ketenagalistrikan sebagai bagian integral dari agenda transformasi PLN.
Ia menjelaskan bahwa keberhasilan perusahaan listrik tidak cukup diukur melalui pertumbuhan pendapatan, penambahan pelanggan, atau pengembangan pembangkit, tetapi juga harus terlihat dari kualitas pengalaman masyarakat dalam menggunakan listrik.
Menurutnya, pelanggan membutuhkan kepastian pasokan, kecepatan penanganan gangguan, transparansi informasi, kemudahan pelayanan, serta perlindungan terhadap risiko yang berkaitan dengan penggunaan energi listrik.
Tohom juga mendorong penguatan edukasi keselamatan instalasi, penggunaan material kelistrikan sesuai standar, dan koordinasi dengan lembaga terkait untuk mengurangi risiko kecelakaan akibat listrik.
"Listrik adalah kebutuhan dasar yang berkaitan langsung dengan keselamatan dan produktivitas masyarakat, sehingga transformasi PLN harus menghadirkan pelayanan yang semakin andal, transparan, mudah diakses, dan memberikan perlindungan nyata kepada setiap konsumen," ujarnya.
Ia menilai digitalisasi pelayanan perlu terus dikembangkan untuk mempercepat penyelesaian pengaduan, meningkatkan transparansi layanan, serta menyediakan informasi yang lebih mudah dipahami pelanggan.
Namun, digitalisasi tersebut juga harus diimbangi dengan peningkatan kemampuan petugas dan kesiapan infrastruktur agar pelanggan di wilayah terpencil tetap memperoleh kualitas pelayanan yang setara.
Menurut Tohom, perusahaan energi berkelas dunia bukan hanya dikenal karena kecanggihan teknologi dan besarnya aset, tetapi juga karena kemampuan membangun kepercayaan pelanggan secara konsisten.
"PLN harus mampu membuktikan bahwa kemajuan teknologi berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap konsumen, sebab kepercayaan masyarakat merupakan salah satu aset paling berharga bagi keberlanjutan perusahaan," katanya.
PLN Harus Profesional dan Bebas dari Kepentingan Sektoral
Tohom mengingatkan bahwa keberhasilan kepemimpinan baru juga membutuhkan penguatan tata kelola perusahaan, transparansi pengadaan, efisiensi investasi, dan sistem pengawasan yang kredibel.
Ia memandang setiap keputusan strategis harus didasarkan pada kepentingan perusahaan dan negara, bukan dipengaruhi kepentingan kelompok yang berpotensi menghambat efektivitas pembangunan ketenagalistrikan.
Menurutnya, PLN perlu memperkuat sistem pengembangan sumber daya manusia berbasis kompetensi, integritas, prestasi, dan kemampuan memberikan kontribusi nyata terhadap perusahaan.
"PLN harus menjadi rumah besar bagi para profesional yang bekerja untuk kepentingan bangsa, bukan arena tarik-menarik kepentingan yang mengorbankan efektivitas perusahaan dan kualitas pelayanan kepada rakyat," ujarnya.
Sebagai Sekretaris LBH Advokasi Peduli Bangsa, Tohom turut mengingatkan bahwa penguatan tata kelola dan kepatuhan hukum harus menjadi fondasi setiap kebijakan investasi maupun pelaksanaan proyek strategis PLN.
Ia menilai penerapan prinsip kehati-hatian perlu berjalan beriringan dengan keberanian mengambil keputusan bisnis yang profesional agar perusahaan tidak kehilangan momentum pembangunan.
Menurutnya, pengawasan publik yang objektif merupakan bagian dari upaya menjaga kredibilitas perusahaan sekaligus memperkuat kepercayaan pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.
"Direksi PLN harus berani mengambil keputusan strategis sepanjang dilandasi kajian profesional, kepatuhan hukum, dan tata kelola yang baik, karena perusahaan sebesar PLN membutuhkan keberanian kepemimpinan sekaligus sistem pengawasan yang kuat," katanya.
PLN Watch Siap Kawal Kepemimpinan Baru
Tohom menegaskan bahwa PLN Watch akan terus mendukung berbagai kebijakan strategis perusahaan yang berorientasi pada peningkatan pelayanan, penguatan ketahanan energi, dan pembangunan ekonomi nasional.
Ia menjelaskan bahwa dukungan tersebut juga harus disertai evaluasi objektif terhadap pencapaian perusahaan agar setiap program transformasi memberikan hasil yang terukur.
Menurutnya, pemerintah perlu memberikan kesempatan kepada Suroso untuk membangun konsolidasi internal, menetapkan prioritas kerja, dan menjalankan kebijakan berdasarkan kebutuhan jangka panjang perusahaan.
Tohom juga berharap seluruh jajaran PLN dapat memberikan dukungan melalui kerja nyata, peningkatan disiplin organisasi, inovasi pelayanan, dan pelaksanaan proyek secara profesional.
"PLN Watch mengajak seluruh pihak memberikan kepercayaan dan dukungan kepada Pak Suroso Isnandar untuk bekerja dan membuktikan kapasitas kepemimpinannya, karena yang sedang kita bangun bukan hanya masa depan sebuah BUMN, melainkan masa depan ketahanan energi dan daya saing Indonesia," ujarnya.
Ia meyakini bahwa kepemimpinan yang kuat, koordinasi pemerintah yang efektif, dan keterlibatan pemangku kepentingan secara konstruktif akan membuka peluang lebih besar bagi PLN untuk berkembang menjadi perusahaan energi modern yang kompetitif.
Tohom menambahkan bahwa keberhasilan PLN perlu dilihat dari manfaat yang dirasakan masyarakat, mulai dari keandalan listrik rumah tangga hingga meningkatnya daya saing industri nasional.
"Keberhasilan seorang Direktur Utama PLN bukan kemenangan pribadi, melainkan kemenangan bangsa ketika listrik semakin andal, industri semakin berkembang, investasi semakin tumbuh, dan masyarakat di seluruh pelosok negeri memperoleh kesempatan yang lebih besar untuk maju bersama," pungkas Tohom.
Riwayat Pendidikan dan Karier Suroso Isnandar
Sebelumnya, Suroso Isnandar resmi ditetapkan sebagai Direktur Utama PT PLN (Persero) melalui Rapat Umum Pemegang Saham pada Rabu (14/10/2026), menggantikan Darmawan Prasodjo yang sebelumnya memimpin perusahaan ketenagalistrikan milik negara tersebut.
Suroso merupakan profesional ketenagalistrikan kelahiran Klaten, Jawa Tengah, pada 12 Agustus 1971 yang memiliki latar belakang pendidikan teknik elektro serta pengalaman panjang dalam pengelolaan sistem tenaga listrik dan manajemen perusahaan.
Berdasarkan profil resmi PLN, berikut riwayat pendidikan Suroso Isnandar:
1994: Sarjana Teknik bidang Power System Engineering, Institut Teknologi Bandung (ITB).
1999:Master of Science bidang Power System Engineering and Management, University of Abertay, Skotlandia.
2025: Doktor bidang Teknik Elektro, Institut Teknologi Bandung (ITB).
Adapun perjalanan karier Suroso Isnandar di lingkungan PLN meliputi sejumlah jabatan strategis berikut:
2019–2021: General Manager PLN Unit Induk Pembangkitan dan Penyaluran Sulawesi, dengan tanggung jawab pada pengelolaan pembangkitan dan sistem penyaluran listrik di wilayah Sulawesi.
2021–2022: General Manager PLN Unit Induk Pusat Pengatur Beban Jawa, Madura, dan Bali, yang berperan dalam koordinasi dan pengendalian sistem tenaga listrik di wilayah tersebut.
2022–2023: Kepala Satuan Digital dan Teknologi Informasi PLN Kantor Pusat, dengan tanggung jawab pada pengembangan teknologi informasi dan digitalisasi perusahaan.
2023–2025: Memasuki jajaran direksi PLN melalui penugasan strategis di bidang manajemen proyek dan energi baru terbarukan.
2025–2026: Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan PLN, berdasarkan Keputusan Menteri BUMN Nomor SK-159/MBU/06/2025 tertanggal 18 Juni 2025.
14 Oktober 2026–sekarang: Direktur Utama PT PLN (Persero), menggantikan Darmawan Prasodjo.
Rangkaian pendidikan dan pengalaman profesional tersebut menjadi bekal Suroso dalam memimpin PLN menghadapi tantangan pertumbuhan kebutuhan listrik, percepatan transisi energi, pembangunan infrastruktur, serta peningkatan kualitas pelayanan ketenagalistrikan nasional.
[Redaktur: Sandy]