WAHANANEWS.ID, Jakarta - Ada masa ketika warga Kampung Sindang Heula, Desa Bayongbong, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut, harus bangun lebih pagi hanya untuk memastikan ada air di rumah. Jerigen-jerigen kosong digotong menyusuri jalan kampung sejauh hampir setengah kilometer, terutama saat kemarau datang dan sumber air makin sulit dicari. Aktivitas itu bukan sekali dua kali, melainkan rutinitas harian yang menyita waktu, tenaga, dan kekhawatiran.
Kini, cerita itu tinggal kenangan. Dari keran-keran kecil di depan rumah, air mengalir setiap hari — hasil dari program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) yang digagas PLN Electricity Services. Setahun sejak sumur bor dan jaringan pipa pertama kali dibangun, jumlah warga yang menikmati air bersih ini tumbuh signifikan: dari 80 orang di awal program, kini mencapai 150 orang.
Baca Juga:
Dari Jalan Setengah Kilometer, Kini Tinggal Buka Keran: Air Bersih Ubah Hidup Warga Sindang Heula
Pertumbuhan ini bukan hanya soal angka. Sebuah evaluasi independen yang baru rampung dilakukan justru menegaskan bahwa di balik kenaikan jumlah penerima manfaat itu, ada dampak sosial yang jauh lebih besar dari nilai investasi yang dikeluarkan perusahaan.
Ketika Air Mengubah Keseharian
Denah program ini sederhana namun berarti besar bagi warga. Air dari sumur bor dialirkan ke toren utama berkapasitas 5.300 liter, sebelum didistribusikan lewat empat toren pembagi ke rumah-rumah melalui jaringan pipa. Total ada 47 kepala keluarga yang menjadi penerima manfaat langsung di tahap awal — jumlah yang terus bertambah seiring meluasnya jangkauan jaringan air ini ke lebih banyak keluarga di kampung tersebut.
Baca Juga:
Kini Tak Perlu Jalan Setengah Kilometer, Warga Kampung Sindang Heula Nikmati Air Bersih dari Keran Rumah
Yang berubah bukan cuma soal ketersediaan air, tapi juga bagaimana warga menjalani hari. Waktu yang dulu habis untuk berjalan kaki mengambil air kini bisa dialihkan untuk bekerja, mengurus anak, atau sekadar beristirahat. Kekhawatiran menghadapi musim kemarau yang dulu jadi bayang-bayang tahunan, perlahan mulai memudar.
Di balik keberlangsungan sarana ini, ada warga seperti Asep Lukman yang menjadi motor penggerak. Bersama beberapa warga lain Tatang, Adar, Abdul Fatah, dan Iman. Mereka membentuk kelompok swadaya yang merawat sumur dan jaringan pipa agar air terus mengalir tanpa putus.
Dulu kami harus jalan jauh bawa jerigen, sekarang tinggal buka keran di depan rumah. Perubahan ini terasa sekali, apalagi sekarang makin banyak keluarga yang bisa menikmatinya," ungkap Asep.