Untuk memperbaiki ataupun menggantinya dengan yang baru, BPBD Kabupaten Gunungkidul tak memiliki cukup anggaran. Pasalnya alat EWS harganya cukup mahal, 1 alat bisa mencapai Rp 1 miliar. Padahal anggaran mereka untuk penanganan bencana cukup minim.
Dengan garis pantai Gunungkidul cukup panjang karena mencapai 78,2 kilometer. Sebenarnya EWS sangat penting untuk memberi peringatan sedini mungkin akan adanya gelombang tsunami sehingga warga bisa langsung melakukan penyelamatan diri.
Baca Juga:
Truk Bantuan Kiriman Xi Jinping untuk Korban Gempa Ditembaki Pasukan Junta Myanmar
"Karena rusak, kini mereka hanya mengandalkan informasi dari BMKG," tambahnya.
Di mana informasi tersebut hanya mereka sebarkan melalui nomor handphone sekaligus Handy talky (HT) petugas SAR yang tersebar di pos-pos SAR terdekat. Kemudian oleh anggota SAR diteruskan ke masyarakat juga melalui WA.
Untuk peringatan dini tsunami, BPBD Gunungkidul memang mengandalkan BMKG. Karena lembaga tersebut belum lama ini memasang EWS dengan teknologi terbaru di atas Pantai Parangtritis dan Bandara YIA Kulonprogo.
Baca Juga:
Myanmar Umumkan Masa Berkabung Nasional 7 Hari Usai Gempa
EWS milik BMKG diklaim mampu mendeteksi tsunami mulai jarak 200 kilometer dari bibir pantai. EWS milik BMKG nanti akan mengolah tinggi gelombang sekaligus kecepatan tsunami sampai ke daratan sehingga warga bisa langsung mencari lokasi yang aman.
"Sementara kita andalkan EWS BMKG dulu. Karena memang tidak anggaran untuk itu," ungkap dia. [rin]